TIMESINDONESIA.MY.ID - Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menjadi perhatian publik setelah sebaran abu vulkanik kini meluas ke berbagai wilayah di Provinsi Lampung. Fenomena alam ini menyebabkan dampak langsung bagi kesehatan masyarakat di beberapa kabupaten dan kota.

Dikutip dari Kompas.com, cakupan wilayah yang terpapar abu vulkanik kini semakin melebar setelah sebelumnya hanya dirasakan oleh warga di daerah Tanggamus dan Pesisir Barat. Kini, material vulkanik tersebut telah mencapai Bandar Lampung, Pesawaran, hingga Lampung Selatan.

Pihak berwenang menduga bahwa perubahan arah angin menjadi penyebab utama meluasnya sebaran abu tersebut. Kondisi ini membuat material vulkanik dari Gunung Anak Krakatau terbawa lebih jauh dari titik pusat erupsi menuju kawasan pemukiman penduduk.

Dampak dari sebaran abu ini mulai dirasakan secara fisik oleh masyarakat setempat. Warga di sejumlah daerah terdampak mulai mengeluhkan berbagai gejala kesehatan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Keluhan yang paling sering dilaporkan oleh warga meliputi mata yang terasa perih saat beraktivitas serta gangguan pada tenggorokan. Selain itu, beberapa warga juga mengalami kesulitan pernapasan akibat paparan debu vulkanik yang beterbangan di udara.

Salah satu warga Bandar Lampung, Desi, mengungkapkan kondisi yang ia alami saat beraktivitas di luar ruangan. Ia merasakan dampak fisik yang cukup mengganggu akibat paparan abu tersebut.

"Saya mengalami sesak napas dan tenggorokan terasa tidak nyaman saat berkendara di luar rumah," ujar Desi.

Pihak terkait terus memantau perkembangan situasi di lapangan untuk memastikan keselamatan warga. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan menggunakan pelindung diri jika harus beraktivitas di luar rumah selama sebaran abu masih berlangsung.

Hingga saat ini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai langkah mitigasi khusus dari pemerintah daerah setempat. Namun, kesadaran warga untuk menjaga kesehatan di tengah kondisi lingkungan yang terpapar abu vulkanik sangat diperlukan.