TIMESINDONESIA.MY.ID - Peradangan pada usus buntu, atau dikenal sebagai apendisitis, memang sering dikaitkan dengan kebiasaan makan yang kurang sehat. Beberapa faktor yang umum disebut adalah makan terburu-buru atau tanpa sengaja menelan benda asing seperti biji-bijian.

Namun, sebuah temuan baru kini menyoroti sebuah faktor gaya hidup yang mungkin sering terabaikan. Faktor ini ternyata memiliki peranan yang tak kalah penting dalam memicu kondisi kesehatan yang serius ini.

Defisiensi asupan serat harian kini diidentifikasi sebagai salah satu penyebab signifikan terjadinya radang usus buntu. Kurangnya serat dalam diet sehari-hari dapat memberikan dampak negatif yang cukup besar pada sistem pencernaan.

Spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, memberikan penjelasan mendalam mengenai bagaimana serat bekerja di dalam tubuh kita. Perannya sangat vital dalam menjaga kelancaran seluruh proses pencernaan.

"Serat berperan penting dalam menjaga kelancaran proses pencernaan," ujar dr Igus Ulfa Yaze, SpGK.

Lebih lanjut, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK menjelaskan bahwa serat membantu pergerakan usus menjadi lebih lancar. Hal ini mencegah terjadinya penumpukan sisa makanan yang dapat menjadi sumber masalah.

"Tanpa serat yang cukup, pergerakan usus bisa melambat, yang berpotensi menyebabkan masalah pencernaan lainnya," jelas dr Igus Ulfa Yaze, SpGK.

Kondisi ini kemudian dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terjadinya peradangan pada usus buntu. Mekanismenya terkait dengan bagaimana feses terbentuk dan bergerak melalui saluran pencernaan.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk memperhatikan kecukupan asupan serat harian mereka. Hal ini merupakan langkah pencegahan yang efektif untuk menjaga kesehatan pencernaan secara keseluruhan.