TIMESINDONESIA.MY.ID - Pemerintah Indonesia secara aktif mengerahkan teknologi modifikasi cuaca sebagai upaya strategis dalam menangani dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah krusial di tanah air.
Operasi khusus ini difokuskan pada tiga provinsi yang kerap menjadi langganan karhutla, yaitu Riau, Kalimantan Tengah (Kalteng), dan Kalimantan Barat (Kalbar).
Dalam pelaksanaan operasi ini, koordinasi erat dilakukan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menentukan kapan dan di mana intervensi modifikasi cuaca paling efektif dilakukan.
"Untuk pelaksanaan OMC, kami terus berkoordinasi dengan BMKG untuk melihat potensi pertumbuhan awan dan menentukan waktu yang paling optimal," ujar Ristianto Pribadi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan.
Berdasarkan data dan prediksi terbaru dari BMKG per tanggal 12 Agustus 2026, terdapat indikasi peluang pertumbuhan awan yang signifikan, mulai dari sedang hingga tinggi.
Potensi pertumbuhan awan tersebut diprediksi akan terkonsentrasi di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, khususnya pada periode tanggal 13 hingga 16 Agustus.
Pemilihan Kalbar dan Kalteng sebagai fokus utama operasi modifikasi cuaca ini didasarkan pada terdeteksinya peningkatan jumlah titik panas (hotspot) di kedua provinsi tersebut.
Peningkatan titik panas ini menjadi indikator kuat adanya aktivitas kebakaran yang perlu segera ditangani secara komprehensif.
Teknologi modifikasi cuaca ini diharapkan dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih kondusif untuk pemadaman api, seperti meningkatkan curah hujan di area yang terdampak.