TIMESINDONESIA.MY.ID - Periode Januari hingga pertengahan Agustus 2026 menjadi catatan kelam bagi dunia maritim Indonesia. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) atau Basarnas melaporkan angka korban jiwa yang signifikan akibat berbagai insiden kecelakaan kapal.

Data yang dirilis oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya M Syafi'i, mengungkap sebuah potret suram mengenai keselamatan pelayaran di tanah air. Angka kematian yang tercatat menjadi perhatian serius bagi semua pihak terkait.

"Meninggal 239, hilang 203 orang, terevakuasi 3.404 orang," ujar Syafi'i saat menyampaikan paparannya dalam sebuah rapat kerja penting. Pernyataan ini disampaikan di hadapan anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Rapat kerja tersebut juga turut mengundang Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, serta perwakilan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kehadiran mereka menunjukkan betapa pentingnya isu keselamatan maritim yang dibahas.

Basarnas mencatat bahwa sepanjang periode Januari hingga 15 Agustus 2026, pihaknya telah menangani total 601 kasus kecelakaan kapal. Jumlah ini mencakup berbagai jenis insiden yang terjadi di perairan Indonesia.

Dari 601 operasi penanganan kecelakaan kapal tersebut, Syafi'i merinci bahwa total korban yang ditangani oleh Basarnas mencapai angka 3.607 jiwa. Angka ini mencakup mereka yang selamat, terluka, hingga yang dinyatakan meninggal dunia.

"Meninggal 239, hilang 203 orang, terevakuasi 3.404 orang," ungkap Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syafi'i mengenai data korban kecelakaan kapal.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Marsekal Madya M Syafi'i dalam forum rapat kerja dengan Komisi V DPR, yang turut dihadiri oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi dan BMKG, sebagaimana dikutip dari siaran Youtube TVR Parlemen pada Rabu (19/8/2026).

"Basarnas menangani 601 kecelakaan kapal sepanjang Januari hingga 15 Agustus 2026," jelas Marsekal Madya M Syafi'i mengenai cakupan operasi yang dilakukan lembaganya.