TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi yang mengguncang wilayah Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026 telah memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi para penyintas. Hingga saat ini, banyak warga yang masih memilih untuk tetap berada di lokasi pengungsian demi menjaga keselamatan diri.
Salah satu warga yang terdampak adalah Erniwati (39), seorang ibu yang kini tinggal di Posko Golo Conggo. Ia telah berada di lokasi pengungsian tersebut selama hampir tiga pekan lamanya.
Dikutip dari Kompas.com, Erniwati mengungkapkan bahwa ia belum memiliki keberanian untuk kembali ke tempat tinggalnya di Kelurahan Reo. Keputusan ini diambil bukan sekadar karena kondisi bangunan yang rusak akibat gempa, melainkan karena kondisi mentalnya yang belum pulih.
"Saya masih belum berani pulang ke rumah karena bayangan bencana itu selalu muncul setiap kali hendak tidur," ujar Erniwati.
Peristiwa traumatis tersebut bermula saat gempa terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00 Wita. Saat itu, Erniwati sedang beristirahat di rumah bersama seluruh anggota keluarganya.
"Getaran gempa yang tiba-tiba membuat kami semua terbangun dari tidur dan segera berusaha mencari tempat yang dianggap lebih aman," kata Erniwati.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Erniwati karena ia harus mengasuh tiga orang anak, termasuk seorang balita yang baru berusia 22 bulan. Beban psikologis sebagai orang tua tentu menjadi prioritas utama di tengah situasi pascabencana yang sulit.
Bagi para penyintas, dukungan lingkungan dan pendampingan psikologis sangat diperlukan untuk memulihkan trauma akibat bencana alam. Tetap berada di pengungsian dianggap sebagai solusi praktis untuk meminimalisir rasa cemas sebelum kondisi lingkungan benar-benar dinyatakan aman.
Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat terus memberikan perhatian, baik berupa perbaikan infrastruktur maupun pemulihan kesehatan mental bagi warga terdampak. Langkah-langkah ini sangat krusial agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan normal dengan rasa tenang.