TIMESINDONESIA.MY.ID - Hampir tiga pekan telah berlalu sejak musibah gempa bumi mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. Meski waktu terus berjalan, kondisi di lapangan masih menyisakan trauma bagi warga terdampak.
Salah satu warga yang masih bertahan di pengungsian adalah Albert R. Cundawan. Pria berusia 41 tahun ini hingga kini belum berani kembali menempati kediamannya di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai.
Dikutip dari Kompas.com, keputusan Albert untuk menetap di posko pengungsian bukan karena ia tidak merindukan suasana rumahnya. Ia dan keluarganya sebenarnya sudah sangat ingin kembali ke hunian mereka.
Namun, rasa takut akan keselamatan menjadi kendala utama yang menghambat kepulangan mereka. Kerusakan bangunan yang dialami rumah Albert tidak sepenuhnya terlihat jelas dari sisi luar bangunan.
"Sekarang kami kalau mau masuk rumah kaya maling, karena takut ambruk, di luar enggak kelihatan, tapi di dalam dinding platfon rumah sudah ambruk," ujar Albert.
Menurut pengakuan Albert, kerusakan yang terjadi justru terkonsentrasi di bagian dalam rumah. Kondisi ini membuat struktur bangunan menjadi sangat rentan dan tidak stabil.
Karena situasi tersebut, ia harus ekstra hati-hati setiap kali hendak memeriksa kondisi rumahnya. Ia merasa perlu memastikan keamanan sebelum memutuskan untuk kembali tinggal di sana.
Hingga Rabu (2/9/2026), Albert masih terlihat berada di Posko Pengungsian Golo Conggo. Ia bersama warga lainnya terus memantau perkembangan situasi pasca-gempa di wilayah mereka.
Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan warga yang terdampak dapat kembali ke rumah masing-masing dengan aman. Pemerintah setempat diharapkan dapat segera melakukan pendataan menyeluruh terhadap bangunan warga yang rusak.