TIMESINDONESIA.MY.ID - Olahan bahan pangan lokal umbi kimpul belakangan ini mendadak viral dan menjadi topik perbincangan hangat di kalangan warganet pada berbagai platform media sosial. Santapan ini kian diminati oleh masyarakat luas lantaran dinilai fleksibel untuk dikreasikan menjadi beragam jenis hidangan kuliner yang lezat dan menggugah selera.
Sebagai salah satu sumber karbohidrat alternatif, kimpul memang menawarkan rasa yang khas serta kelezatan yang memikat para pecinta kuliner nusantara. Selain itu, bahan pangan tradisional ini juga menyimpan potensi nutrisi yang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan energi harian tubuh.
Namun demikian, di balik tingginya antusiasme masyarakat terhadap tren kuliner tersebut, konsumsi umbi kimpul ternyata tidak disarankan secara bebas bagi seluruh lapisan masyarakat. Para pakar kesehatan mengingatkan pentingnya sikap bijak dan kehati-hatian dalam mengolah serta mengonsumsi bahan pangan ini.
Informasi penting mengenai batasan asupan pangan ini disampaikan oleh spesialis gizi klinik, dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, pada Senin (3/8/2026). Beliau memberikan perhatian khusus terhadap aspek keutamaan kesehatan di tengah maraknya tren olahan umbi lokal tersebut.
"Masyarakat yang memiliki riwayat medis penyakit ginjal dan gangguan asam urat disarankan untuk ekstra hati-hati sebelum memutuskan untuk mengonsumsi umbi kimpul," ujar dr Igus Ulfa Yaze, SpGK.
Peringatan medis tersebut diberikan lantaran umbi kimpul memiliki kandungan senyawa oksalat yang tergolong cukup tinggi di dalamnya. Pembatasan ketat sangat diperlukan agar senyawa tersebut tidak memicu gangguan atau memperberat kondisi kesehatan organ dalam penderita.
"Pembatasan ketat terhadap jenis umbi-umbian ini sangat diperlukan bagi individu dengan kondisi kesehatan tertentu agar tidak menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan," kata dr Igus Ulfa Yaze, SpGK.
Dikutip dari detikcom, pemahaman masyarakat mengenai karakteristik bahan pangan lokal menjadi kunci utama dalam menjaga pola hidup sehat. Kejelian dalam mengenali kondisi fisik pribadi akan membantu mencegah dampak negatif dari konsumsi makanan secara berlebihan.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak sekadar mengikuti tren kuliner yang sedang populer di media sosial tanpa mempertimbangkan kondisi kebugaran tubuh. Mengonsultasikan pola makan kepada tenaga medis terdekat tetap menjadi langkah terbaik bagi penderita penyakit kronis.