TIMESINDONESIA.MY.ID - Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok yang berlokasi di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan data pemantauan, gunung api ini mengalami serangkaian erupsi yang cukup intensif.
Peristiwa ini tercatat terjadi selama periode pengamatan mulai tanggal 1 hingga 5 September 2026. Sebanyak 1.873 kali gempa letusan atau erupsi telah terdeteksi dari pusat aktivitas gunung tersebut.
Dikutip dari Kompas.com, Pengamat Gunung Api Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian, memberikan penjelasan mengenai fenomena alam yang sedang berlangsung. Beliau memaparkan detail teknis terkait intensitas letusan yang terpantau selama lima hari tersebut.
"Selama periode tersebut, gunung api teramati mengalami sejumlah aktivitas erupsi dengan ketinggian letusan mencapai 200 hingga 700 meter dari atas puncak," ujar Stanislaus Arakian.
Beliau juga menambahkan keterangan mengenai karakteristik material vulkanik yang dikeluarkan oleh gunung tersebut. Hal ini menjadi indikator penting dalam pemantauan aktivitas geologi di wilayah Lembata.
"Kolom abu letusan yang teramati memiliki variasi warna mulai dari putih, kelabu, hingga hitam," kata Stanislaus Arakian.
Selain aktivitas erupsi, petugas di lapangan juga mengamati adanya fenomena guguran material vulkanik. Guguran tersebut memiliki jarak luncur sejauh 700 meter dari puncak dengan arah dominan ke bagian tenggara.
Kondisi visual Gunung Ile Lewotolok bervariasi, mulai dari terlihat jelas hingga tertutup kabut pada tingkat 0-II. Asap dari kawah utama pun teramati dengan intensitas yang berubah-ubah, mulai dari tipis hingga tebal.
Ketinggian asap kawah utama tersebut terpantau mencapai kisaran 20 hingga 500 meter dari puncak. Seluruh data ini menjadi acuan bagi pihak berwenang dalam memantau perkembangan situasi di sekitar kawasan gunung.