TIMESINDONESIA.MY.ID - Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi baru saja merilis temuan terbaru terkait situasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di wilayah Jambi. Temuan ini menyoroti adanya perbedaan data yang cukup signifikan mengenai luasan lahan yang terdampak bencana tersebut.

Dikutip dari Kompas.com, KKI Warsi mencatat bahwa kebakaran hutan dan lahan di Jambi telah mencapai total 5.105 hektare. Angka tersebut terakumulasi hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, yakni sejak awal Agustus 2026 hingga saat ini.

Situasi ini tampak berbanding terbalik dengan data yang dirilis oleh Pemerintah Provinsi Jambi kepada pihak otoritas pusat. Pemerintah daerah sebelumnya menyampaikan data kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni saat kunjungan kerjanya ke Jambi pada Selasa (25/8/2026).

Dalam keterangan resmi tersebut, luas lahan yang terdampak kebakaran hanya tercatat sebesar 916,26 hektare. Data pemerintah ini merupakan akumulasi total sejak Januari 2026 hingga Agustus 2026.

Perbedaan data ini memicu perhatian karena adanya disparitas yang sangat mencolok antara temuan lapangan dari komunitas dengan catatan resmi pemerintah. Analisis mendalam diperlukan untuk memahami bagaimana pemetaan dilakukan oleh kedua belah pihak.

"Kebakaran tersebut terjadi pada bentang alam yang beragam, mulai dari lahan gambut hingga tanah mineral, serta pada kawasan dengan fungsi dan status pengelolaan yang berbeda," ujar Adi Junedi.

Direktur KKI Warsi tersebut menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan metode pemantauan berbasis teknologi untuk memastikan akurasi data di lapangan. Analisis spasial menjadi instrumen utama dalam mengidentifikasi luasan area yang terbakar.

"Berdasarkan pemantauan dan analisis spasial tim GIS KKI Warsi, Karhutla yang sudah terindentifikasi sejak awal Agustus dan terus berlangsung menghanguskan sekitar 5.105 hektare kawasan hutan dan lahan," kata Adi Junedi.

Hingga saat ini, upaya penanganan kebakaran masih terus diupayakan di berbagai titik yang teridentifikasi. Kesenjangan data ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama untuk penanggulangan karhutla yang lebih efektif ke depannya.