TIMESINDONESIA.MY.ID - Upaya pemerintah dalam menggalakkan minat baca masyarakat kini menghadapi tantangan serius menyusul adanya kebijakan pemangkasan anggaran perpustakaan yang cukup signifikan. Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat akses masyarakat terhadap ketersediaan bahan bacaan berkualitas di berbagai daerah.
Dikutip dari Kompas.com, penulis ternama Ahmad Fuadi memberikan pandangannya terkait fenomena ini saat menghadiri acara Pesta Literasi Indonesia 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Gramedia Jalma, Semarang, pada Sabtu (12/9/2026).
Menurut Ahmad Fuadi, saat ini tantangan utama dalam meningkatkan literasi di Indonesia masih berkutat pada keterbatasan akses buku serta rendahnya daya beli masyarakat. Situasi tersebut menjadi kian memprihatinkan dengan adanya pemangkasan anggaran pada instansi perpustakaan.
"Kebijakan pemangkasan anggaran tersebut sangat merugikan bagi kita semua. Kita sedang berupaya keras menumbuhkan minat baca yang lebih baik, sementara salah satu simpul penting dalam penyediaan buku adalah perpustakaan," ujar Ahmad Fuadi.
Data menunjukkan bahwa anggaran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) mengalami penurunan hampir separuh pada tahun 2026. Anggaran yang semula mencapai Rp 721 miliar pada 2025, kini terpangkas menjadi hanya Rp 377 miliar saja.
Dampak nyata dari kebijakan tersebut mulai dirasakan oleh masyarakat, terutama terkait distribusi bahan bacaan. Bantuan buku ke berbagai wilayah di tanah air kini terpaksa dihentikan akibat keterbatasan dana operasional.
Tidak hanya di tingkat nasional, efisiensi anggaran juga menyasar perpustakaan di tingkat daerah, salah satunya di Jawa Tengah. Pengalokasian dana untuk pengadaan buku di wilayah tersebut mengalami penurunan sebesar 23,12 persen.
Anggaran pengadaan buku perpustakaan di Jawa Tengah tercatat turun dari Rp 501.580.000 pada tahun 2025 menjadi Rp 385.600.000 pada tahun 2026. Penurunan ini memicu kekhawatiran terkait keberlangsungan koleksi buku di perpustakaan daerah.
Pemerhati literasi berharap agar pemangku kebijakan dapat meninjau kembali keputusan tersebut demi masa depan pendidikan bangsa. Dukungan terhadap perpustakaan dianggap sebagai investasi krusial dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui budaya membaca.