TIMESINDONESIA.MY.ID - Dikutip dari Kompas.com, Pemerintah Kota Jambi kini tengah bersiap menghadapi ancaman nyata dari dampak musim kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut. Langkah mitigasi ini diambil demi menjaga stabilitas kebutuhan pokok masyarakat dan keamanan lingkungan.
Fokus utama dari kebijakan ini adalah penanganan krisis air bersih yang mulai mengancam warga, serta upaya preventif terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kedua sektor ini menjadi prioritas utama pemerintah daerah dalam beberapa bulan ke depan.
Untuk mendukung operasional lapangan, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar Rp 4,7 miliar. Dana tersebut diambil dari pos belanja tidak terduga (BTT) yang memang difungsikan untuk merespons kondisi darurat di Kota Jambi.
Wali Kota Jambi, Maulana, menjelaskan bahwa pemerintah daerah juga memaksimalkan tambahan pendapatan dari berbagai sumber. Hal ini mencakup surplus pendapatan asli daerah (PAD), dana bagi hasil (DBH), serta insentif dari pemerintah pusat.
Seluruh dana tambahan tersebut akan dioptimalkan demi mendukung berbagai program prioritas bagi masyarakat. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan warga di tengah cuaca ekstrem.
"Ini bagian dari respons kami terhadap penanggulangan dampak kemarau, seperti distribusi air bersih dan penanganan kebencanaan lainnya," ujar Maulana.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Jambi saat ditemui di Gedung DPRD Kota Jambi pada Sabtu (29/8/2026). Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam dalam menghadapi tantangan cuaca yang berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih.
Dengan adanya alokasi dana tersebut, diharapkan distribusi air ke wilayah yang terdampak kekeringan dapat berjalan lebih cepat. Selain itu, kesiapan sarana untuk memadamkan karhutla juga menjadi perhatian serius agar tidak meluas.
Pemerintah Kota Jambi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan bijak dalam menggunakan air bersih selama periode kemarau ini. Sinergi antara pemerintah dan warga sangat diharapkan agar dampak negatif dari musim kemarau dapat diminimalisir secara efektif.