TIMESINDONESIA.MY.ID - Peran pegawai negeri sipil (PNS) kerap kali menjadi penopang otokrasi yang luput dari perhatian publik, padahal mereka memegang peranan krusial dalam menjaga keberlangsungan sistem tersebut.
Inti dari analisis ini merujuk pada artikel Amanda Taub yang berjudul "Autocracy's 'Loyal Losers'" yang dipublikasikan di The New York Times pada tanggal 20 Mei 2026.
Kekuasaan besar dalam sebuah rezim tidak hanya bertumpu pada seorang pemimpin puncak, melainkan juga pada lapisan-lapisan pejabat menengah yang menjalankan roda pemerintahan sehari-hari.
Mereka bertugas menerjemahkan keputusan strategis pemimpin menjadi aksi nyata, menjaga disiplin di kalangan birokrasi, dan memastikan mesin kekuasaan tetap berjalan lancar.
Para pejabat ini seringkali bukan merupakan ideolog garis keras, melainkan individu yang melihat kepatuhan dan loyalitas sebagai jalur paling realistis untuk memajukan atau sekadar mempertahankan karier mereka.
Hal ini sejalan dengan temuan riset yang dirangkum oleh ilmuwan politik Christian Gläszlig;el dan Adam Scharpf dalam buku mereka, "Making a Career in Dictatorship: The Secret Logic Behind Repression and Coups".
Riset tersebut menunjukkan bahwa insentif karier dapat mendorong aparatur negara untuk secara aktif menopang sistem yang mungkin menyimpang dari prinsip-prinsip kewajaran.
"Kekuasaan besar jarang bertumpu hanya pada seorang pemimpin," demikian inti dari analisis Amanda Taub dalam artikelnya, seperti dikutip dari The New York Times.
Para pejabat menengah ini, yang mungkin tidak memiliki afiliasi ideologis yang kuat, seringkali memandang kepatuhan sebagai strategi rasional untuk kemajuan karier mereka.