TIMESINDONESIA.MY.ID - Beberapa waktu lalu, sebuah inovasi teknologi pengubahan Air Susu Ibu (ASI) menjadi bentuk bubuk sempat mencuri perhatian publik dan menjadi tren di kalangan masyarakat.
Namun, inovasi yang beredar di masyarakat ini tak luput dari perhatian para ahli kesehatan yang memberikan pandangan dan peringatan penting terkait penggunaannya.
Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang memadai maupun pengakuan resmi dari otoritas kesehatan mengenai manfaat maupun keamanan dari ASI bubuk yang beredar.
Hal ini menjadi poin krusial yang menjadi perhatian utama para profesional kesehatan yang mendedikasikan diri untuk mendampingi tumbuh kembang optimal anak-anak Indonesia.
Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, Subsp.Neo(K), turut memberikan penekanan mengenai metode pemberian ASI yang paling dianjurkan.
Beliau menegaskan bahwa praktik menyusui langsung dari ibu kepada bayinya tetap merupakan pilihan utama yang paling direkomendasikan oleh IDAI.
"Menyusui langsung tetap menjadi pilihan utama," ujar Dr dr Naomi Esthernita Fauzia Dewanto, SpA, Subsp.Neo(K).
Para ahli kesehatan menekankan bahwa metode menyusui langsung tidak hanya memastikan kandungan nutrisi yang utuh, tetapi juga memperkuat ikatan emosional antara ibu dan bayi.
Selain itu, menyusui langsung juga dinilai lebih efektif dalam memberikan antibodi dan zat penting lainnya yang terkandung dalam ASI.