TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), menimbulkan kekhawatiran dan memerlukan perhatian serius dari masyarakat yang berada di daerah terdampak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan imbauan keselamatan pasca-kejadian gempa kuat tersebut. Fokus utama imbauan ini adalah untuk melindungi warga dari potensi bahaya sekunder.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menyampaikan pesan penting kepada publik melalui siaran langsung keterangan pers dari Jakarta pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Inti dari imbauan ini adalah agar masyarakat mengambil langkah pencegahan.

"Menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi," ujar Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama. Pernyataan ini menekankan urgensi untuk tidak berada di dalam atau dekat struktur bangunan yang telah mengalami kerusakan akibat guncangan hebat.

Lebih lanjut, Nelly Florida Riama juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi aktivitas seismik lanjutan. Gempa bumi besar seringkali diikuti oleh serangkaian gempa susulan yang dapat kembali menimbulkan ancaman.

"Mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi," demikian imbauan yang disampaikan oleh BMKG. Peringatan ini bertujuan agar masyarakat tetap siaga dan tidak lengah terhadap kemungkinan terjadinya guncangan lanjutan.

Data terkini yang dihimpun BMKG hingga pukul 07.07 WIB pagi hari menunjukkan adanya peningkatan aktivitas gempa susulan. Tercatat sebanyak 37 kali gempa susulan telah terjadi pasca-gempa utama.

Kekuatan gempa susulan yang terekam bervariasi, mulai dari magnitudo 3,7 hingga yang terbesar mencapai magnitudo 6,2. Rentang kekuatan ini mengindikasikan bahwa aktivitas seismik di wilayah NTT masih cukup intensif.

Oleh karena itu, kesadaran dan tindakan proaktif dari masyarakat terdampak menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi pasca-gempa ini. Mengikuti arahan dari BMKG adalah langkah bijak untuk meminimalkan risiko.