- TIMESINDONESIA.MY.ID - Partai Golkar secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kebiasaan atau kecenderungan untuk berada di posisi oposisi. Pernyataan ini disampaikan oleh salah satu tokoh kunci partai tersebut.
Hal ini diungkapkan pada sebuah forum penting partai yang diselenggarakan pada awal Agustus 2026. Acara tersebut adalah Musyawarah Daerah XI DPD Golkar Sumatera Selatan.
Menyikapi kondisi tersebut, nakhoda Partai Golkar mengumumkan keputusan partai untuk memberikan dukungan kepada pemerintahan yang terbentuk pasca Pemilu 2024. Keputusan ini didasarkan pada pengalaman historis partai.
Sejak pendirian Sekretariat Bersama (Sekber) Golkar pada tanggal 20 Oktober 1964, organisasi ini telah menjadi wadah bagi golongan fungsional atau karya murni. Tujuannya adalah untuk menampung aspirasi tanpa terpengaruh oleh kekuatan politik tertentu.
Selama era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, Golongan Karya (Golkar) memainkan peran sentral. Partai ini menjadi bagian integral dari struktur kekuasaan Orde Baru.
Golkar pertama kali mengikuti pemilihan umum pada tahun 1971 dan terus menjadi elemen penting dalam pemerintahan selama periode tersebut. Kehadirannya sangat signifikan dalam sistem politik Orde Baru.
Di bawah rezim yang menampilkan 'demokrasi semu', Golkar berhasil meraih kemenangan dalam setiap pemilihan umum yang diselenggarakan. Periode kemenangan ini berlangsung secara konsisten dari tahun 1971 hingga 1997.
"Partai Golkar tidak terbiasa menjadi oposisi," demikian penegasan yang disampaikan oleh Bahlil Lahadalia.
"Karena 'tidak terbiasa' itu sang nakhoda Golkar menyatakan dukungannya kepada pemerintahan hasil Pemilu 2024," demikian narasi yang menjelaskan langkah politik partai tersebut.