TIMESINDONESIA.MY.ID - Indonesia mencatatkan progres signifikan dalam upaya pengentasan kemiskinan ekstrem selama satu dekade terakhir. Penurunan angka ini menjadi sinyal positif bagi peta jalan pembangunan ekonomi nasional.
Namun, keberhasilan ini perlu disikapi dengan bijak karena keluar dari garis kemiskinan bukan berarti sebuah keluarga telah sepenuhnya aman. Masih terdapat risiko kerentanan saat mereka dihadapkan pada masalah kesehatan atau kehilangan pekerjaan.
Dikutip dari Poverty and Inequality Platform Bank Dunia, data menunjukkan adanya pergeseran statistik yang cukup mencolok. Perubahan ini terpantau sejak tahun 2014 hingga proyeksi yang dibuat untuk tahun 2025 mendatang.
"Penurunan kemiskinan ekstrem merupakan kabar baik, namun berada di atas garis kemiskinan belum tentu berarti sebuah keluarga telah cukup kuat menghadapi sakit, kehilangan pekerjaan, atau guncangan ekonomi lainnya," ujar Bank Dunia.
Berdasarkan garis kemiskinan ekstrem internasional sebesar 3 dolar AS per orang per hari menggunakan paritas daya beli (PPP) 2021, penduduk Indonesia yang berada di bawah garis tersebut mencapai 25,7 persen pada 2014.
Angka tersebut mengalami penurunan drastis hingga menyentuh kisaran 5,4 persen pada tahun 2024. Tren positif ini diprediksi akan terus berlanjut dengan estimasi angka 4,04 persen pada tahun 2025.