TIMESINDONESIA.MY.ID - Kisah inspiratif tentang patriotisme datang dari Negeri Chu, China, lebih dari dua ribu tahun yang lalu. Seorang tokoh bernama Qu Yuan dikenal sebagai negarawan yang memiliki dedikasi tinggi terhadap tanah airnya.
Dikutip dari sumber asli, Qu Yuan adalah sosok pejabat yang menempatkan kepentingan negara di atas segalanya. Ia selalu berupaya memastikan kebijakan yang diambil penguasa tetap berada di jalur yang benar.
"Karena rasa cinta itu, ia berulang kali mengingatkan penguasa tentang berbagai kebijakan yang menurutnya dapat membawa Chu menuju kehancuran," ujar narasi sejarah mengenai Qu Yuan.
Proses Hukum Pimpinan Majelis Nurul Hikam Tetap Berlanjut Meski Telah Sampaikan Permohonan Maaf
Namun, keberaniannya dalam bersikap kritis harus dibayar dengan harga yang mahal. Ia akhirnya tersingkir dari lingkaran kekuasaan dan harus menjalani masa pengasingan yang panjang.
"Sikap kritisnya harus dibayar mahal. Qu Yuan tersingkir dari lingkungan kekuasaan. Ia juga menjalani pengasingan," tulis catatan sejarah tersebut.
Tragedi terjadi pada tahun 278 SM ketika ibu kota Chu jatuh ke tangan Qin. Peristiwa ini memberikan dampak emosional yang sangat mendalam bagi Qu Yuan yang merasa sangat terpukul melihat kondisi negaranya.
"Ia tidak tega melihat negerinya hancur. Qu Yuan pun mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di Sungai Miluo," jelas kutipan sejarah mengenai akhir hayat sang negarawan.
Pelajaran penting yang bisa kita petik hari ini adalah bagaimana mencintai negara dengan cara yang tidak membabi buta. Kita diajak untuk berani mengambil jarak guna menilai apakah kebijakan yang ada telah membawa kebaikan bersama.
"Kisah Qu Yuan tetap relevan. Ia mencintai negerinya, tetapi tidak membabi buta. Ia mengambil jarak dari kekuasaan untuk menilai apakah kekuasaan bekerja untuk kebaikan bersama," papar penjelasan mengenai relevansi kisah Qu Yuan.