TIMESINDONESIA.MY.ID - Banyak orang mungkin pernah berada dalam situasi yang mengharuskan mereka mengalah demi menjaga keharmonisan atau kebahagiaan orang lain. Namun, jika kebiasaan ini menjadi pola yang dominan dalam kehidupan, bisa jadi ini merupakan indikasi dari kondisi psikologis yang perlu diwaspadai.
Kondisi psikologis yang dimaksud adalah "echoism", sebuah fenomena di mana seseorang cenderung mengabaikan kebutuhan, keinginan, dan perasaan diri sendiri demi orang lain. Mereka kerap menempatkan prioritas orang lain di atas kepentingan pribadi, bahkan dalam situasi yang tidak proporsional.
Pola perilaku echoism ini seringkali berakar dari pengalaman hidup sejak usia dini. Faktor lingkungan dan pola asuh dapat berperan besar dalam membentuk kecenderungan ini.
Seseorang dengan echoism mungkin tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat menekankan pentingnya pengorbanan. Mereka bisa saja diajarkan bahwa cinta dan penerimaan hanya dapat diperoleh dengan senantiasa menyenangkan orang lain.
"Seseorang dengan echoism mungkin tumbuh dalam keluarga yang sangat menekankan pengorbanan atau merasa bahwa cinta dan penerimaan hanya bisa didapatkan dengan selalu menyenangkan orang lain," demikian penjelasan yang disampaikan.
Kondisi ini bukan sekadar sifat pemalu atau rendah hati, melainkan sebuah pola perilaku yang mengakar kuat. Dampaknya dapat merusak kesehatan mental dan emosional individu jika tidak dikenali dan diatasi.