TIMESINDONESIA.MY.ID - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, baru-baru ini menyoroti pentingnya literasi gizi yang memadai di kalangan masyarakat Indonesia. Ia menggarisbawahi perlunya para pendidik, khususnya guru, memiliki pemahaman mendalam tentang nutrisi agar dapat menyampaikannya secara efektif kepada para siswa.
Fokus utama Sudaryono adalah pada kesenjangan pemahaman gizi yang masih terlihat di berbagai daerah di Indonesia. Kesenjangan ini sering kali memunculkan mitos-mitos yang tidak berdasar, salah satunya adalah anggapan bahwa mengonsumsi telur dapat menyebabkan timbulnya bisul.
"Kenyataannya di daerah itu masih banyak orang yang menganggap bahwa makan telur bikin bisul," ungkap Sudaryono di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Beliau menegaskan bahwa tidak ada kaitan ilmiah sama sekali antara konsumsi telur dengan kemunculan bisul. Mitos ini perlu diluruskan demi kesehatan masyarakat.
Menurut Sudaryono, melalui program literasi gizi yang terstruktur, guru dapat berperan sebagai agen perubahan. Mereka diharapkan mampu menjelaskan kepada murid-murid mengenai kandungan nutrisi penting dalam makanan sehari-hari.
Salah satu contoh yang diangkat adalah telur. Guru dapat mengedukasi bahwa telur merupakan sumber protein tinggi yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perbaikan sel tubuh.
Selain itu, literasi gizi juga diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang manfaat sayuran. Guru dapat menjelaskan bahwa sayuran kaya akan serat, yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan pencernaan.
Sudaryono menekankan bahwa pemahaman yang benar tentang gizi makanan akan membantu masyarakat membuat pilihan pangan yang lebih sehat, serta membantah stigma negatif yang keliru terhadap bahan makanan bergizi.
"Yang pada kenyataannya sebetulnya kan enggak ada hubungannya," tegas Sudaryono mengenai anggapan telur menyebabkan bisul.