TIMESINDONESIA.MY.ID - Indonesia kini berada di persimpangan krusial, menimbang apakah sains akan menjadi pendorong utama peradaban bangsa atau sekadar hiasan politik semata.
Pertemuan perdana Presiden Prabowo Subianto dengan lebih dari 150 periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berlangsung di Istana Kepresidenan pada Kamis, 6 Agustus 2026. Acara ini diharapkan menjadi penanda momen simbolis penting bagi lanskap sains nasional.
Kehadiran para peneliti bersama pameran 12 klaster inovasi, meliputi energi, pangan, kesehatan, hingga pertahanan, menunjukkan upaya mendekatkan dunia sains dengan para pengambil kebijakan. Inisiatif ini mencakup berbagai bidang, dari teknologi energi hingga produk konsumsi murah.
Namun, penting untuk tidak hanya terjebak dalam euforia simbolis semata. Pameran inovasi yang digelar di halaman Istana menampilkan berbagai produk menarik, seperti genteng dari limbah hingga alat pengolahan air darurat.
Muncul pertanyaan mendasar terkait arah pengembangan riset nasional. Apakah pertemuan ini akan melahirkan ekosistem riset yang bebas dari hambatan birokrasi, ataukah hanya sekadar panggung kosmetik untuk memperkuat legitimasi kekuasaan?
Pertanyaan mendalam lainnya adalah mengenai komitmen jangka panjang negara. Apakah pemerintah benar-benar bertekad membangun fondasi riset yang kokoh, ataukah hanya mengumpulkan artefak inovasi untuk kepentingan politik sesaat?
"Kita tidak boleh terjebak pada euforia simbolik," demikian pandangan yang disampaikan dalam analisis terkait pertemuan tersebut, menekankan perlunya evaluasi lebih dalam.
Mengenai potensi perkembangan sains nasional, muncul pertanyaan apakah ini adalah momentum untuk melahirkan ekosistem riset yang bebas dari jeratan birokrasi. Pertanyaan ini diajukan untuk mengukur dampak nyata dari pertemuan tersebut.
"Apakah ini momentum akan lahirnya ekosistem riset yang bebas dari jeratan birokrasi, ataukah hanya sekadar panggung kosmetik untuk meneguhkan legitimasi kekuasaan?" adalah pertanyaan krusial yang diajukan dalam konteks ini.