TIMESINDONESIA.MY.ID - Presiden Joko Widodo dilaporkan mulai menjalin komunikasi dengan berbagai kelompok relawan pendukungnya. Kegiatan ini memicu interpretasi dari para pengamat politik mengenai arah pergerakan politik di masa mendatang.

Pertemuan tersebut dikonfirmasi terjadi di Solo, Jawa Tengah, di mana salah satu kelompok relawan yang hadir adalah "sound horeg". Kehadiran mereka menjadi sorotan publik dan media.

Usai pertemuan dengan Presiden Jokowi, para relawan "sound horeg" menyatakan kesiapan mereka untuk memberikan dukungan penuh. Dukungan ini secara spesifik diarahkan untuk Gibran Rakabuming Raka dalam pemilihan presiden yang akan datang.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, memberikan pandangannya terkait pertemuan ini. Ia melihatnya sebagai sebuah sinyal yang sangat jelas mengenai ambisi politik Gibran di tahun 2029.

Adi Prayitno berpendapat bahwa partisipasi Gibran Rakabuming Raka dalam Pemilihan Presiden 2029 merupakan sebuah keharusan. Menurutnya, ini adalah langkah krusial agar Gibran tetap memiliki posisi penting dalam lanskap politik Indonesia di masa depan.

"Ini tanda tegas bahwa Gibran di 2029 harus maju. Itu harga mati," ujar Adi Prayitno kepada Kompas.com pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Lebih lanjut, Adi Prayitno menjelaskan bahwa tanpa langkah politik yang signifikan di tahun 2029, trah politik dari Presiden Jokowi akan menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan eksistensinya. Hal ini menjadi pertimbangan utama dalam analisisnya.

Ia juga menguraikan spekulasi yang beredar di tengah masyarakat terkait peran Gibran di masa depan. Banyak yang memprediksi Gibran akan kembali diusulkan sebagai calon wakil presiden.

"Yang dibayangkan publik saat ini adalah Gibran tetap disodorkan jadi cawapres Presiden Prabowo Subianto di 2029," kata Adi Prayitno, merujuk pada prediksi umum mengenai skenario politik mendatang.