TIMESINDONESIA.MY.ID - Pemerintah Kota Bukittinggi baru saja melakukan eksekusi pembongkaran terhadap sejumlah kios yang berada di depan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK). Peristiwa ini terjadi pada Senin, 7 September 2026, di Kelurahan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang.

Lokasi pembongkaran yang terletak tepat di depan pintu gerbang utama kawasan wisata tersebut kini menjadi sorotan publik. Langkah tegas pemerintah setempat ini memicu tanda tanya besar di kalangan pedagang yang terdampak.

Dikutip dari Kompas.com, para pedagang merasa bingung dengan arah kebijakan pemerintah daerah saat ini. Pasalnya, mereka menilai terdapat kontradiksi antara tindakan penggusuran di luar kawasan dengan pembangunan fasilitas serupa di dalam area konservasi.

Ketua Pedagang TMSBK, Ismail, mengungkapkan rasa kecewanya terhadap keputusan pemerintah kota. Menurutnya, terdapat ketidaksinkronan kebijakan yang dirasakan oleh para pelaku usaha di sekitar kawasan tersebut.

"Tahun 2018 kami dikeluarkan dan dipaksa berjualan di luar kawasan. Alasannya jualan kami dinilai mengontaminasi kehidupan satwa," ujar Ismail.

Situasi ini menciptakan polemik karena pemerintah justru kini membangun pusat kuliner di dalam area konservasi satwa. Hal inilah yang membuat para pedagang merasa kebijakan yang diterapkan tidak konsisten.

Para pedagang berharap pemerintah dapat memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai perencanaan tata ruang tersebut. Mereka mempertanyakan alasan logis di balik pembangunan fasilitas kuliner di lokasi yang dulunya dianggap terlarang bagi kegiatan berjualan.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak Pemerintah Kota Bukittinggi terkait perbandingan kebijakan antara masa lalu dan rencana pembangunan fasilitas baru di dalam TMSBK. Para pedagang masih menunggu dialog terbuka terkait nasib mereka ke depannya.

Langkah penataan ini diharapkan mampu berjalan dengan komunikasi yang baik antara otoritas setempat dan masyarakat terdampak. Hal ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berkepanjangan di tengah masyarakat Bukittinggi.