TIMESINDONESIA.MY.ID - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens dengan erupsi berkelanjutan yang terjadi pada akhir pekan lalu. Fenomena alam ini memicu perhatian berbagai pihak terkait efektivitas langkah penanganan yang telah diterapkan pemerintah di wilayah Lampung.
Dikutip dari Kompas.com, Walhi Lampung secara tegas meminta pemerintah untuk menjadikan rentetan erupsi ini sebagai momentum krusial. Evaluasi menyeluruh terhadap sistem mitigasi bencana dinilai sangat mendesak dilakukan saat ini.
Direktur Walhi Lampung, Irfan Tri Musri, menyoroti bahwa dampak dari erupsi tersebut kini telah meluas ke berbagai sektor kehidupan masyarakat. Cakupan dampaknya tidak hanya terbatas pada area di sekitar gunung, melainkan telah menyentuh permukiman warga.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau bukan semata persoalan vulkanologi," ujar Irfan Tri Musri.
Lebih lanjut, Irfan menjelaskan bahwa paparan abu vulkanik telah mencemari ruang publik dan permukiman penduduk. Hal ini mengakibatkan munculnya berbagai risiko kesehatan yang mengancam masyarakat sekitar.
Selain gangguan kesehatan, aktivitas rutin masyarakat juga terdampak secara signifikan akibat erupsi tersebut. Dampaknya mencakup pembatasan kegiatan sekolah hingga terganggunya jalur transportasi udara di wilayah terkait.
Menurutnya, pemerintah perlu melihat fenomena ini dari kacamata yang lebih komprehensif. Penanganan erupsi tidak boleh hanya berfokus pada aspek teknis geologi semata.
"Menurutnya, erupsi Gunung Anak Krakatau perlu diterjemahkan lebih luas, yakni persoalan keselamatan publik, kesehatan lingkungan, dan kesiapsiagaan bencana," kata Irfan Tri Musri.
Harapannya, evaluasi ini dapat memperkuat kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi potensi bencana di masa depan. Langkah preventif yang lebih matang dinilai mampu meminimalisir risiko yang berdampak langsung bagi keselamatan warga.