TIMESINDONESIA.MY.ID - Kisah memprihatinkan datang dari Dukuh Kayunan Barat, Desa Kayugritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Seorang lansia bernama Darmi (63) kini harus berjuang keras demi mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari.
Dikutip dari Kompas.com, kondisi ekonomi keluarga Darmi semakin terpuruk setelah bantuan sosial (bansos) yang selama ini menjadi sandaran hidupnya resmi dihentikan. Situasi ini memaksa ia dan suaminya, Dayat (77), untuk memutar otak agar tetap bisa makan.
Darmi diketahui tidak memiliki kemampuan membaca maupun menulis. Keterbatasan ini membuatnya hanya bisa mengandalkan pekerjaan rumahan berupa memotong sisa benang jahitan serta mengobras pakaian dan celana.
"Penghasilan yang saya peroleh dari pekerjaan memotong dan mengobras benang hanya sebesar Rp 3.000 dalam sepekan," ujar Darmi.
Pendapatan yang sangat minim tersebut harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan makan berdua bersama sang suami. Tantangan semakin berat mengingat harga beras di pasaran saat ini telah mencapai Rp 16.000 per kilogram.
"Satu kilogram beras yang dibeli dengan harga tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan kami selama kurang lebih dua hari saja," kata Darmi.
Keterbatasan fisik, usia lanjut, serta hilangnya dukungan bantuan sosial membuat kehidupan pasangan lansia ini berada dalam kondisi yang sangat rentan. Mereka kini sangat bergantung pada penghasilan yang tidak menentu dari pekerjaan sampingan tersebut.