TIMESINDONESIA.MY.ID - Dikutip dari Kompas.com, sebuah inisiatif kemanusiaan muncul dari pelosok Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Semangat belajar para siswa di SDN Kampung Baru, Pulau Longos, tetap terjaga meski fasilitas sekolah mereka mengalami kerusakan cukup parah.

Peristiwa ini bermula saat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut. Guncangan kuat itu menyebabkan struktur bangunan sekolah mengalami kerusakan yang mengancam keselamatan para penggunanya.

Menghadapi kondisi tersebut, para guru dan masyarakat setempat memilih untuk tidak berpangku tangan. Mereka bergotong royong membangun ruang kelas darurat agar kegiatan belajar mengajar tatap muka tetap bisa berlangsung.

Pembangunan ruang kelas tersebut dilakukan secara swadaya dengan memanfaatkan material yang tersedia di lingkungan sekitar. Warga menggunakan kayu sebagai tiang penopang serta daun pohon gebang sebagai dinding dan atap bangunan sementara.

Langkah ini diambil sebagai solusi cepat agar puluhan siswa di pulau terpencil itu tidak kehilangan hak pendidikan mereka. Meskipun sangat sederhana, bangunan tersebut menjadi simbol ketangguhan warga dalam menghadapi dampak bencana alam.

"Dua ruangan pada bangunan lama sekolah mengalami kerusakan cukup parah setelah diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7," ujar Amiruddin.

Amiruddin selaku Kepala SDN Kampung Baru juga menjelaskan mengenai kondisi fisik bangunan yang kini dinilai sudah tidak layak digunakan. Kerusakan yang ditimbulkan gempa menciptakan bahaya nyata bagi para siswa dan guru.

"Retakan lebar terlihat jelas di bagian sudut-sudut bangunan utama. Kondisi ini memicu kekhawatiran tinggi akan potensi struktur bangunan yang sewaktu-waktu bisa roboh," kata Amiruddin.

Hingga saat ini, proses belajar mengajar tetap diupayakan berjalan meski dalam keterbatasan fasilitas. Ketulusan para guru dan dukungan warga menjadi kunci utama dalam menjaga harapan masa depan anak-anak di Pulau Longos.