TIMESINDONESIA.MY.ID - Kehilangan sosok terkasih selalu meninggalkan jejak emosional yang mendalam bagi orang yang ditinggalkan. Bagi Karina Ranau, hal ini kembali teruji ketika ia dihadapkan pada peninggalan Epy Kusnandar berupa buku harian.

Benda berharga ini menyimpan begitu banyak memori dan cerita yang belum terungkap sepenuhnya dari perjalanan hidup Epy Kusnandar. Buku harian tersebut menjadi saksi bisu pemikiran, perasaan, dan pengalaman pribadinya.

Keberadaan buku harian tersebut kini menjadi pengingat kuat akan sosok almarhum suami yang telah tiada. Peninggalan ini menyimpan fragmen kehidupan yang berharga bagi Karina.

Namun, Karina Ranau mengungkapkan bahwa dirinya belum memiliki kesiapan emosional yang memadai untuk membuka dan membaca isi dari buku harian suaminya tersebut. Beban emosional yang dirasakannya masih terlalu berat untuk dihadapi saat ini.

"Benda ini menyimpan begitu banyak memori dan cerita yang belum terungkap," ujar Karina Ranau.

"Buku harian tersebut menjadi saksi bisu perjalanan hidup Epy Kusnandar, berisi pemikiran, perasaan, dan pengalaman pribadinya," tambahnya.

"Keberadaannya kini menjadi pengingat kuat akan sosok almarhum yang telah tiada," kata Karina Ranau.

"Namun, Karina Ranau mengaku bahwa dirinya belum memiliki kesiapan emosional untuk membuka dan membaca isi buku harian tersebut," jelasnya.

"Beban emosional yang dirasakan masih terlalu berat untuk dihadapi saat ini," tutur Karina Ranau.