TIMESINDONESIA.MY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Bengkulu telah mengeluarkan informasi terbaru terkait durasi musim kemarau tahun ini. Wilayah Bengkulu diperkirakan akan mengalami kondisi kering yang lebih panjang dari estimasi sebelumnya.
Fenomena cuaca ini diprediksi akan terus berlangsung hingga akhir September 2026 mendatang. Wilayah pesisir Bengkulu menjadi area yang paling terdampak oleh kondisi panas dan kering tersebut.
Dikutip dari Kompas.com, peningkatan suhu yang terjadi saat ini tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
Kondisi cuaca ekstrem ini dipicu oleh fenomena El Nino yang melanda wilayah Bengkulu. Dampak dari fenomena ini bahkan diperkirakan lebih kuat dibandingkan dengan musim kemarau yang terjadi pada tahun 1998 silam.
"Kondisi El Nino saat ini masih berada pada posisi Nino 3.4 dengan indeks minus 2.2," ujar Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Bengkulu, Luhur Tri Uji Prayitno.
Menurut pihak BMKG, posisi indeks tersebut menjadi faktor utama yang memperpanjang durasi musim kemarau di seluruh wilayah Bengkulu. Kondisi ini membuat tingkat kekeringan menjadi lebih signifikan dibandingkan periode normal.
MNC Peduli Hadirkan Harapan bagi Penyintas Gempa di Ende dan Nagekeo Lewat Bantuan Logistik
"Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat memperpanjang musim kemarau di wilayah Bengkulu," kata Luhur Tri Uji Prayitno.
Terkait perubahan durasi musim, BMKG sebelumnya sempat memperkirakan musim kemarau akan berakhir pada bulan Agustus. Namun, hasil pemantauan terbaru menunjukkan adanya potensi perpanjangan waktu hingga bulan depan.
"Musim kemarau awalnya diprediksi berakhir pada Agustus namun berpotensi hingga akhir September, sementara itu peningkatan curah hujan diperkirakan baru mulai terjadi pada Oktober 2026," jelas Luhur Tri Uji Prayitno.