TIMESINDONESIA.MY.ID - Segmen SUV besar di Indonesia telah lama didominasi oleh pemain kuat seperti Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner, yang dikenal dengan ketangguhan dan kemampuan petualangannya. Namun, lanskap otomotif kini mulai bergeser, mendorong inovasi bahkan pada kendaraan berukuran besar, seperti yang ditawarkan oleh Chery J6T CSH.
Chery J6T CSH memperkenalkan pendekatan revolusioner melalui teknologi Chery Super Hybrid (CSH) yang mengadopsi sistem Range-Extended Electric Vehicle (REEV). Alih-alih mengandalkan mesin pembakaran internal sebagai penggerak utama roda, SUV ini memanfaatkan motor listrik, sementara mesin bensin berfungsi sebagai generator untuk mengisi daya baterai saat diperlukan.
Perbedaan mendasar ini menghasilkan pengalaman berkendara yang unik, menyerupai sensasi mobil listrik dengan torsi instan yang kuat, namun tetap mempertahankan karakteristik SUV tangguh yang dicari konsumen. "Hasilnya, sebuah SUV yang tetap memiliki karakter adventure dengan sensasi berkendara seperti mobil listrik," demikian penjelasan mengenai keunggulan sistem penggerak ini.
Meskipun mengusung teknologi elektrifikasi, J6T CSH tidak mengorbankan kemampuan off-road yang menjadi ciri khas SUV besar. Kendaraan ini tetap menawarkan ground clearance 220 mm dan kemampuan menerjang genangan air hingga kedalaman 650 mm, menjadikannya siap menghadapi berbagai medan.
Salah satu keunggulan signifikan J6T CSH terletak pada performa akselerasinya yang superior. Berkat motor listrik yang mampu menghasilkan torsi secara instan, SUV ini mampu melesat dari 0 hingga 100 km/jam hanya dalam 5,5 detik.
Sebagai perbandingan, "Pajero Sport Dakar Ultimate 4x4 membutuhkan 11,8 detik. Sementara Fortuner 2.8 GR Sport 4x4 tercatat membutuhkan 11,9 detik," ungkap sumber perbandingan performa tersebut. Perbedaan ini menunjukkan lompatan teknologi dalam hal responsivitas akselerasi.
Pengalaman berkendara J6T CSH sangat berbeda karena mesin bensinnya tidak terhubung langsung ke roda, melainkan hanya berfungsi sebagai generator. Hal ini memberikan respons pedal akselerator yang terasa seperti mobil listrik murni. "Karena itu, respons pedal akselerator J6T CSH tetap terasa seperti sebuah EV," papar analisis mengenai pengalaman berkendara tersebut.
Fleksibilitas jarak tempuh yang menjadi keunggulan SUV konvensional kini juga ditawarkan oleh J6T CSH, namun dengan sentuhan elektrifikasi. Teknologi REEV memungkinkan pengisian daya melalui stasiun pengisian listrik maupun bahan bakar minyak, memberikan jangkauan total lebih dari 1.000 kilometer.
"Kombinasi keduanya memiliki jarak tempuh lebih dari 1.000 kilometer," demikian pernyataan yang menyoroti efisiensi dan jangkauan operasionalnya. Hal ini memastikan bahwa perjalanan jauh tetap dapat dilakukan tanpa kekhawatiran akan keterbatasan infrastruktur.