TIMESINDONESIA.MY.ID - Wilayah Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini tengah menjadi perhatian serius pihak berwenang. Hal ini menyusul ditemukannya kerusakan pada struktur geologi di kawasan wisata Danau Kelimutu.
Kerusakan tersebut terdeteksi pasca terjadinya gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026 lalu. Tim dari Badan Geologi segera melakukan peninjauan lapangan untuk memastikan kondisi terkini kawah tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan mendalam dan survei menggunakan drone, tim ahli menemukan adanya retakan serta tanda-tanda longsoran kecil. Temuan ini berlokasi tepat di area kawah I Tiwu Ata Polo yang menjadi salah satu ikon wisata setempat.
"Posisi retakan berada pada jarak sekitar 6 meter dari bibir kawah," ujar Kepala Badan Geologi, Lana Saria.
Dalam pemaparannya, Lana menjelaskan bahwa retakan tersebut memiliki panjang mencapai 100 meter. Arah retakan tercatat berada pada posisi N30oE-N60oE atau ke arah timur laut, yang mengikuti alur kemiringan lereng kawah.
Pihak Badan Geologi menekankan bahwa kondisi geologis ini harus segera ditindaklanjuti. Hal ini mengingat potensi ancaman yang dapat ditimbulkan jika pergeseran tanah terus berlanjut di masa depan.
"Lana menegaskan bahwa kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius sebab berpotensi adanya perkembangan retakan yang dapat memicu longsoran ke arah Kawah I," ungkap beliau.
Dikutip dari Kompas.com, informasi mengenai kondisi terkini Danau Kelimutu ini disampaikan secara resmi oleh pihak Badan Geologi pada Rabu, 26 Agustus 2026. Masyarakat serta wisatawan diimbau untuk tetap mengikuti arahan pihak berwenang terkait keamanan di area tersebut.
Hingga saat ini, tim ahli terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan struktur tanah di sekitar kawah. Langkah mitigasi ini dilakukan untuk mengantisipasi potensi risiko yang lebih besar bagi lingkungan sekitar.