TIMESINDONESIA.MY.ID - Gunung Anak Krakatau (GAK) menjadi entitas yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Pulau Sebesi, Lampung Selatan. Secara geografis, gunung api aktif ini hanya berjarak sekitar 15 hingga 20 kilometer dari permukiman penduduk.
Dikutip dari Kompas.com, keberadaan gunung tersebut telah menjadi bagian dari dinamika keseharian warga Desa Tejang, Kecamatan Rajabasa. Meski berada dalam radius yang cukup dekat, masyarakat setempat tetap menjalankan aktivitas normal tanpa rasa takut berlebihan.
Sehari-hari, warga tetap produktif dengan berbagai pekerjaan seperti berkebun dan melaut. Rutinitas domestik di dalam rumah tangga pun terus berjalan sebagaimana mestinya, seolah ancaman erupsi bukanlah penghalang utama bagi produktivitas mereka.
Kondisi tersebut terjadi karena warga telah terbiasa dengan fenomena vulkanik yang sering kali muncul dari kawah gunung. Bagi mereka, suara dentuman, gemuruh, hingga paparan abu vulkanik merupakan bagian dari pengalaman hidup yang sudah sering dirasakan.
Meski demikian, masyarakat setempat tetap menjaga kewaspadaan tinggi terhadap aktivitas gunung tersebut. Mereka sadar sepenuhnya bahwa karakteristik gunung api dapat berubah sewaktu-waktu dan menuntut kesiapsiagaan setiap saat.
"Bagi warga Sebesi, kondisi itu tidak serta-merta membuat mereka hidup dalam kepanikan," ujar warga setempat sebagaimana dilansir dari Kompas.com.
Keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan kesadaran akan mitigasi bencana menjadi kunci utama warga dalam bertahan hidup. Pendekatan ini menunjukkan tingkat literasi bencana yang cukup matang di kalangan masyarakat Desa Tejang.
Hingga saat ini, pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap menjadi prioritas bagi warga. Mereka terus memantau perkembangan situasi sebagai upaya preventif demi menjaga keselamatan keluarga dan lingkungan tempat tinggal mereka.