TIMESINDONESIA.MY.ID - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia, memberikan penjelasan terkait polemik akurasi Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Ia menegaskan bahwa data tersebut memiliki tantangan besar untuk mencapai tingkat kebenaran mutlak.

Dikutip dari Kompas.com, pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Amalia saat menghadiri agenda di Kantor Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta Pusat. Pertemuan itu berlangsung pada hari Selasa, 9 Agustus 2026.

Amalia menyoroti bahwa kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di Indonesia bersifat sangat dinamis. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya proses pemutakhiran data yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

"Namanya ini data manusia tidak pernah ada menuju akurat 100 persen karena setiap saat ada orang yang meninggal, setiap saat ada orang yang lahir," ujar Amalia.

Menurutnya, fluktuasi jumlah penduduk menjadi faktor utama mengapa data statistik tidak bisa berhenti di satu titik angka saja. Kelahiran dan kematian yang terjadi setiap waktu secara otomatis mengubah komposisi populasi.

Selain faktor kependudukan, Amalia juga menyoroti variabel status pekerjaan sebagai elemen krusial. Perubahan nasib ekonomi seseorang dapat terjadi kapan saja dan memengaruhi validitas data di lapangan.

"Setiap saat ada orang yang berubah status yang tadinya punya pekerjaan menjadi tidak punya pekerjaan," kata Amalia.

Pernyataan ini menjadi respons atas diskusi publik mengenai efektivitas DTSEN dalam mendukung kebijakan pemerintah. Amalia menegaskan bahwa BPS terus berupaya melakukan penyesuaian agar data yang dihasilkan tetap relevan dengan situasi terkini.

Dengan adanya dinamika tersebut, BPS berkomitmen untuk terus memperbaiki metode pengumpulan data. Langkah ini diharapkan dapat meminimalisir kesenjangan informasi dalam sistem pendataan nasional.