TIMES INDONESIA – Festival Film Wartawan (FFW) 2026 kembali menggelar rangkaian kegiatan nonton bareng (nobar) di CGV FX, Jakarta, Kamis (3/9). Dalam kesempatan tersebut, FFW 2026 memberikan sorotan khusus pada film musikal anak-anak bertajuk 'Iyus Jenius', yang hadir di tengah dominasi genre aksi, horor, dan drama dewasa di layar lebar Indonesia.
Produser film 'Iyus Jenius', Gandhi Fernando, mengungkapkan bahwa film ini merupakan wujud kecintaannya terhadap tontonan anak yang berkualitas. Terinspirasi dari memori masa kecilnya saat menyaksikan film musikal seperti 'Petualangan Sherina', Gandhi mengaku harus menempuh perjuangan panjang untuk menghadirkan film ini ke publik.
"Perjuangan terberat bukan saat syuting, melainkan saat film ini siap tayang. Kami butuh waktu tiga tahun untuk mendapatkan jadwal tayang di bioskop," ungkap Gandhi. Saat ini, film tersebut mendapatkan slot penayangan di 25 layar XXI dengan total sekitar 80 layar di seluruh jaringan bioskop di Indonesia.
Sutradara Ahmad Romie mengakui bahwa proses produksi film ini memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam mengarahkan aktor anak-anak. "Melatih puluhan anak-anak, sekaligus memadukan akting dengan tarian dan lagu menjadi tantangan besar. Waktu yang terbatas membuat proses koreografi dan latihan menjadi ujian kesabaran," ujar Romie.
Sementara itu, produser Adnan Djani menjelaskan bahwa narasi film dibangun dari realita kehidupan anak-anak sehari-hari. Dengan mengusung lagu-lagu karya mendiang Papa T Bob, film ini berupaya menyajikan konten yang relevan bagi keluarga Indonesia. "Kami ingin mengingatkan kembali bahwa ada tontonan anak yang bermutu dan sesuai dengan usia mereka, tanpa harus memaksa anak tumbuh terlalu cepat," tambah Baba T Bob, salah satu pemeran sekaligus putra dari Papa T Bob.
Di sisi lain, Kevin Abadio, pemeran utama tokoh Iyus, berbagi pengalaman tentang beratnya proses syuting. Ia mengaku sempat jatuh sakit karena harus menjalankan peran yang menuntut kemampuan akting, menyanyi, dan koreografi secara bersamaan untuk pertama kalinya.
Dalam diskusi tersebut, Ketua FFW 2026, Benny Benke, melontarkan kritik keras terkait sulitnya akses tayang bagi film idealis seperti 'Iyus Jenius'. Menurutnya, penantian tiga tahun untuk mendapatkan 25 layar di jaringan XXI menunjukkan adanya masalah dalam tata kelola peredaran film nasional.
"Sistemnya terasa gaib, tidak ada parameter yang jelas atau transparan dari pemilik bioskop mengenai pembagian jadwal tayang," tegas Benny.
Benny berharap pemerintah, khususnya dari sektor pendidikan, dapat mengambil peran agar film-film bertema edukasi dan keluarga seperti 'Iyus Jenius' dapat menjangkau audiens yang lebih luas hingga ke pelosok kabupaten. Ia menekankan bahwa setiap film memiliki caranya sendiri untuk menemui penontonnya, dan anak-anak Indonesia berhak mendapatkan tontonan berkualitas yang dapat mereka cintai.