TIMESINDONESIA.MY.ID - Duka menyelimuti kediaman keluarga di Kelurahan Wailiti, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Kepergian Alfonsius Albinus Mehan (35) yang tiba dalam peti jenazah menyisakan luka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan.
Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Rabu (9/9/2026) di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Alfonsius bersama dua rekannya, yakni Aprida Rapi (49) dan Wili Mbuik (25), menjadi korban penembakan oleh kelompok bersenjata saat sedang bertugas.
Dikutip dari Kompas.com, Alfonsius diketahui merupakan sosok berdedikasi yang telah mengabdi di tanah Papua selama sembilan tahun. Kepergiannya yang mendadak ini membuat pihak keluarga, terutama sang ibu, Maria Sukardiam, merasa terpukul.
Maria menuturkan bahwa putranya sempat menempuh pendidikan kedokteran hewan di Yogyakarta dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2017. Tak lama berselang, Alfonsius menunjukkan tekad kuat untuk membangun karier di luar pulau kelahirannya.
"Saya pertama memang saya berat," ungkap Maria dengan nada sedih.
Keinginan Alfonsius untuk bekerja di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, disampaikan kepada sang ibu tepat setahun setelah kelulusannya. Meski diliputi rasa cemas, Maria akhirnya memberikan restu bagi sang putra untuk merantau demi mengejar cita-citanya.
Maria kini hanya bisa meratapi nasib putranya yang harus pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Ia tidak menyangka bahwa izin yang diberikan bertahun-tahun lalu justru berujung pada peristiwa duka yang sangat memilukan ini.
"Kenapa sampai begitu?" ujar Maria dengan penuh tanya dan kesedihan yang mendalam.
Keluarga kini tengah berupaya mengikhlaskan kepergian Alfonsius yang telah mengabdikan hidupnya di bidang kesehatan hewan. Hingga saat ini, pihak keluarga masih terus berkoordinasi terkait proses pemulangan dan pemakaman jenazah di tanah kelahirannya.