TIMESINDONESIA.MY.ID - Aktivitas ekonomi masyarakat di Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, hingga kini masih lumpuh total. Kondisi ini terjadi pasca bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.
Dikutip dari Kompas.com, situasi di lapangan menunjukkan bahwa warga belum berani kembali ke rumah maupun lahan pertanian mereka. Trauma mendalam akibat guncangan hebat membuat masyarakat memilih untuk tetap bertahan di posko pengungsian.
Sebagian besar warga di wilayah tersebut menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dan perkebunan. Sayangnya, mereka kini tidak mampu lagi mengolah lahan karena rasa cemas yang terus menyelimuti pikiran.
Ketakutan akan datangnya gempa susulan menjadi alasan utama mengapa mereka enggan beranjak jauh dari area pengungsian. Hal ini berdampak langsung pada terhentinya produktivitas warga dalam mencari nafkah sehari-hari.
"Mayoritas masyarakat di wilayah kami bekerja sebagai petani dan berkebun," ujar Yohannes Hasu.
Yohannes yang juga merupakan salah satu warga terdampak menjelaskan bahwa kondisi psikologis masyarakat saat ini masih sangat tertekan. Ancaman gempa susulan yang tidak terprediksi membuat mereka merasa tidak leluasa untuk beraktivitas di luar posko.
"Kami dihantui gempa terus sehingga tidak bisa leluasa meninggalkan tempat pengungsian untuk bekerja di kebun maupun lahan pertanian," kata Yohannes Hasu.
Hingga saat ini, pemerintah setempat terus memantau situasi di posko pengungsian tersebut. Fokus utama saat ini adalah memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi sembari menunggu kondisi keamanan wilayah kembali kondusif.
Harapan warga kini tertuju pada pemulihan situasi agar mereka dapat kembali beraktivitas dengan tenang. Mereka berharap aktivitas pertanian yang menjadi sandaran ekonomi keluarga bisa segera berjalan kembali seperti sedia kala.