TIMESINDONESIA.MY.ID - Gunung Anak Krakatau (GAK) dilaporkan mengalami peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Tercatat ada tujuh kali erupsi yang terjadi dalam rentang waktu sore hingga malam hari pada Senin, 17 Agustus 2026.
Peristiwa ini dimulai sejak pukul 15.14 WIB dan terus berlanjut hingga pukul 19.44 WIB. Periode aktivitas intens ini menunjukkan adanya lonjakan energi di dalam gunung berapi tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Magma Indonesia, dua letusan terakhir dari rangkaian tersebut tidak dapat diamati secara visual. Namun, aktivitasnya berhasil terekam dengan jelas melalui alat seismograf.
Erupsi pertama dalam periode pengamatan ini terjadi pada pukul 15.14 WIB. Letusan ini menghasilkan kolom abu yang membubung.
Kolom abu dari erupsi pertama ini tercatat mencapai ketinggian sekitar 150 meter di atas puncak gunung. Jika diukur dari permukaan laut, ketinggiannya adalah 307 meter.
Hanya berselang satu menit setelah erupsi pertama, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitasnya. Letusan kedua ini terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi.
"Kolom abu kali ini lebih tinggi, mencapai 400 meter di atas puncak atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut," demikian informasi yang tercatat.
Dikutip dari Magma Indonesia, "dua letusan terakhir tidak teramati secara visual, tetapi aktivitasnya terekam jelas oleh seismograf."
Peristiwa ini terjadi di wilayah Selat Sunda, tepatnya di perairan Lampung Selatan. Lokasi ini merupakan rumah bagi Gunung Anak Krakatau yang terus aktif.