TIMESINDONESIA.MY.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, kini menunjukkan tingkat kekhawatiran yang semakin meningkat. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak terkait.
Titik-titik api yang muncul di beberapa wilayah di Kotim dilaporkan mulai menunjukkan pergerakan yang mendekati area permukiman penduduk. Hal ini menimbulkan potensi risiko yang lebih besar bagi keselamatan warga.
Dalam upaya penanggulangan kebakaran, petugas pemadam menghadapi tantangan signifikan. Ketersediaan sumber air yang selama ini menjadi tumpuan utama dalam memadamkan api kini dilaporkan mulai menyusut drastis.
Menyusutnya sumber air ini disebabkan oleh fenomena kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut. Dampak kekeringan mulai terasa dan menghambat efektivitas kerja para petugas di lapangan.
Bupati Kotim, Halikinnor, menyoroti betapa ekstremnya musim kemarau yang terjadi pada tahun ini. Ia mengakui bahwa sejumlah sumber air vital untuk pemadaman kini mengalami penurunan debit yang cukup berarti.
"Musim kemarau tahun ini memang berlangsung cukup ekstrem," ujar Halikinnor, dikutip dari Tribun Kalteng (19/8/2026). Ia menambahkan bahwa beberapa sumber air andalan kini mulai berkurang, bahkan ada yang mengering.
Bupati Halikinnor juga membenarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kemarau panjang dan panas. "Setelah melihat gejolak dan berdasarkan ramalan BMKG bahwa ini kemarau panjang dan panas. Ternyata benar," jelasnya.
Menurutnya, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada bulan Agustus dan September. "Dan puncaknya kan Agustus dan September, ini baru Agustus," katanya, mengindikasikan bahwa situasi dapat terus memburuk.
Upaya pemadaman karhutla di Kotawaringin Timur ini memerlukan koordinasi yang lebih erat dan strategi adaptif dalam menghadapi tantangan kekeringan yang semakin nyata.