TIMESINDONESIA.MY.ID - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) dilaporkan belum sepenuhnya terkendali hingga Minggu, 9 Agustus 2026. Upaya pemadaman yang telah dilakukan terus menerus menghadapi tantangan baru.
Dua titik api dilaporkan kembali muncul di area berbeda dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Lokasi baru ini menambah kompleksitas penanganan karhutla yang sedang berlangsung.
Titik api baru tersebut terdeteksi berada di jalur penanjakan dan kawasan Bukit Dingklik. Kedua lokasi ini berada di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, mengonfirmasi kemunculan titik api baru ini. Ia menjelaskan bahwa titik api di jalur penanjakan pertama kali teramati pada Minggu pagi, 9 Agustus 2026.
"Jadi saat ini ada perluasan titik awal (mulai 3 Agustus 2026), kemudian titik api di Penanjakan, dan barusan muncul lagi di Pasuruan, Dingklik namanya," ujar Emil Elistianto Dardak di Probolinggo, Minggu (9/8/2026).
Kemudian, pada siang hari di hari yang sama, dilaporkan adanya kemunculan titik api lain di kawasan Bukit Dingklik. Hal ini menunjukkan adanya perkembangan baru dalam penyebaran api.
Situasi ini menandakan bahwa api tidak hanya meluas dari titik awal, tetapi juga muncul di area-area baru. Ini membutuhkan respons cepat dan strategi pemadaman yang lebih adaptif dari petugas.
Upaya pemadaman terus dilakukan oleh tim gabungan di lapangan. Mereka bekerja keras untuk mengendalikan api agar tidak meluas lebih jauh dan merusak ekosistem Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Perkembangan terbaru ini menambah beban para petugas yang telah berjuang sejak awal kemunculan api pada tanggal 3 Agustus 2026. Mereka berhadapan dengan tantangan geografis dan kondisi cuaca yang mungkin mendukung penyebaran api.