TIMESINDONESIA.MY.ID - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Kabupaten Kampar, Riau, menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi sebagian warganya. Jarak titik api yang sangat dekat dengan pemukiman membuat warga merasa was-was akan keselamatan dan dampak yang ditimbulkan.

Salah satu warga yang merasakan langsung dampak buruknya adalah Muliadi, seorang pria berusia 81 tahun. Ia harus menghentikan seluruh aktivitasnya selama empat hari akibat kabut asap yang semakin pekat.

Rumah Muliadi berlokasi di Jalan Perwira, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Posisi kediamannya yang agak terpencil dari keramaian permukiman padat penduduk menambah rasa isolasi di tengah situasi darurat tersebut.

Ia tinggal bersama sang istri di rumah tersebut, sementara anak-anak mereka telah berkeluarga dan menempati kediaman masing-masing. Kehidupan sehari-hari mereka sangat bergantung pada hasil pertanian.

Muliadi dan istrinya berprofesi sebagai petani. Mereka memiliki dua petak kebun terong ungu yang terletak di depan dan samping rumah. Hasil dari kebun inilah yang menjadi sumber utama mata pencaharian mereka.

"Jarak titik api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dekat dari rumahnya, membuat Muliadi (81) merasa was-was. Kebakaran cukup besar dan banyak asap," demikian dikutip dari Kompas.com.

Titik api Karhutla yang menjadi sumber kekhawatiran Muliadi dilaporkan berada tepat di belakang kediamannya. Jaraknya diperkirakan hanya sekitar 20 meter dari rumah.

Lahan yang terbakar tersebut merupakan area tanah kosong yang ditumbuhi semak belukar dan memiliki lapisan gambut yang cukup dalam. Kondisi ini berpotensi mempercepat penyebaran api dan menghasilkan asap yang lebih tebal.

Dikutip dari Kompas.com, Muliadi harus menghentikan aktivitasnya sebagai petani selama empat hari penuh. Kondisi ini tentu berdampak pada produktivitas dan pendapatan mereka.