TIMESINDONESIA.MY.ID - Musim kemarau di Kabupaten Kampar, Riau, kembali diwarnai oleh peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat. Titik api yang muncul di dekat permukiman warga menciptakan kondisi udara yang memprihatinkan.
Peristiwa ini terjadi di Jalan Perwira, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, di mana lahan gambut menjadi lokasi kebakaran. Asap yang dihasilkan dari pembakaran tersebut dengan cepat menyelimuti area permukiman, mengganggu aktivitas sehari-hari warga.
Salah satu warga yang terdampak langsung adalah Muliadi, seorang pria berusia 81 tahun. Rumahnya berjarak sangat dekat dari sumber api, hanya sekitar 200 meter, membuatnya menjadi salah satu saksi utama pekatnya asap.
Kondisi asap karhutla terlihat jelas mengepung kediaman Muliadi. Pagi hari menjadi waktu terparah, saat asap membumbung pekat dan sulit ditembus pandang.
"Kalau pagi hari asapnya pekat sekali. Tapi, kalau sudah siang, agak berkurang," ujar Muliadi saat ditemui Kompas.com di rumahnya pada Senin, 17 Agustus 2026.
Pernyataan Muliadi menyoroti perbedaan intensitas asap yang bergantung pada waktu. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun ada sedikit pengurangan di siang hari, paparan asap tetap menjadi masalah yang berkelanjutan bagi warga.
Dampak kesehatan mulai terasa di kalangan warga Kampar akibat kualitas udara yang buruk. Keluhan batuk dan sesak napas menjadi keluhan umum yang disampaikan oleh penduduk yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.
Fenomena karhutla di Riau bukanlah hal baru, namun setiap kejadian kembali mengingatkan akan kerentanan ekosistem gambut dan pentingnya pencegahan serta penanganan yang efektif.
Asap yang menyelimuti permukiman ini tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi dan sosial warga. Perlu adanya langkah mitigasi yang lebih kuat untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.