TIMESINDONESIA.MY.ID - Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, menyebabkan ratusan jiwa terpaksa mengungsi dari kediaman mereka. Peristiwa ini terjadi akibat meluapnya debit air sungai yang tidak mampu menampung curah hujan tinggi.
Peristiwa banjir tersebut terjadi pada hari Minggu, 26 Mei 2024. Air mulai menggenangi pemukiman warga sejak pagi hari, memaksa mereka segera mencari tempat yang lebih aman.
Luapan air sungai tersebut berdampak langsung pada 300 jiwa yang berasal dari berbagai desa di Kabupaten Tapanuli Tengah. Ketinggian air bervariasi, namun di beberapa titik dilaporkan mencapai dada orang dewasa.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah segera merespons situasi darurat ini dengan menyalurkan bantuan logistik. Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi yang terdampak musibah.
"Bantuan yang kami salurkan meliputi kebutuhan pokok seperti sembako, air bersih, dan perlengkapan lainnya," ujar Bupati Tapanuli Tengah, Bakhtiar Sibarani. Ia menambahkan bahwa tim gabungan terus melakukan pendataan lebih lanjut terhadap jumlah warga yang terdampak.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Tengah, Azwar Lubis, menjelaskan bahwa timnya telah diterjunkan ke lokasi banjir untuk melakukan asesmen dan memberikan pertolongan pertama. "Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan seluruh korban mendapatkan bantuan yang dibutuhkan," katanya.
Penyebab utama terjadinya banjir ini adalah curah hujan yang sangat tinggi selama beberapa hari terakhir, ditambah dengan kondisi geografis daerah yang rentan terhadap genangan air. Drainase yang kurang memadai juga diduga turut memperparah kondisi.
Langkah-langkah mitigasi dan penanganan darurat terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama dengan instansi terkait. Prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan dan kesejahteraan seluruh warga yang terdampak banjir.
Pemerintah mengimbau masyarakat yang berada di daerah rawan banjir untuk selalu waspada dan segera mengambil tindakan evakuasi jika ketinggian air terus meningkat. Koordinasi dengan pihak desa dan kecamatan terus dijalin untuk memantau perkembangan situasi di lapangan.