TIMESINDONESIA.MY.ID - Aksi demonstrasi yang disuarakan oleh para pemuda dan mahasiswa di Jayapura, pada Sabtu siang (15/8/2026), dilaporkan berubah menjadi situasi yang tidak kondusif. Peristiwa ini berpusat di wilayah Perumnas Tiga dan Expo Waena, memicu ketegangan di masyarakat.

Aktivitas protes tersebut diketahui dilaksanakan secara serentak di beberapa lokasi kunci di Jayapura. Titik-titik yang menjadi lokasi aksi meliputi Abepura, Expo Waena, dan Perumnas Tiga, menunjukkan adanya koordinasi dalam penyampaian aspirasi.

Puncak kericuhan terjadi ketika para peserta aksi mencoba melakukan longmarch menuju kawasan Abepura. Upaya tersebut dihadang oleh barisan aparat kepolisian yang berjaga di lokasi, memicu respons dari kedua belah pihak.

Menanggapi penghadangan tersebut, massa demonstran dilaporkan melakukan pelemparan batu ke arah petugas kepolisian. Aksi balasan dari aparat kemudian dilakukan dengan menembakkan gas air mata serta menggunakan meriam air untuk mengendalikan dan membubarkan massa yang terlibat dalam kericuhan.

"Akibat bentrokan tersebut, tujuh personel polisi dilaporkan mengalami luka-luka," demikian informasi yang diterima.

Para petugas kepolisian yang terluka tersebut kemudian segera dilarikan menuju Rumah Sakit Bhayangkara Jayapura untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Dikutip dari Kompas.com, aksi demonstrasi ini dilatarbelakangi oleh protes terhadap penempatan personel militer di wilayah Papua.

Hal ini menunjukkan adanya ketidakpuasan dari sebagian elemen masyarakat terhadap kebijakan atau kehadiran militer di daerah tersebut.

Situasi ini menandakan adanya dinamika sosial dan politik yang perlu dicermati lebih dalam terkait isu keamanan dan penempatan militer di Papua.