TIMESINDONESIA.MY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan edukasi penting kepada masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengenai karakteristik aktivitas seismik di wilayah tersebut. BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan karena gempa bumi berkekuatan dahsyat pada umumnya memerlukan waktu hingga puluhan tahun untuk mengumpulkan energi dan terulang kembali di zona yang sama.

Langkah sosialisasi ini dilakukan guna memberikan rasa aman sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap langkah mitigasi bencana yang tepat. Pemahaman yang akurat mengenai periode ulang gempa dinilai sangat krusial agar masyarakat dapat merespons fenomena alam secara bijak dan proporsional.

Dikutip dari keterangan resmi BMKG, proses akumulasi energi regangan pada lempeng tektonik maupun sesar aktif di kawasan Nusa Tenggara membutuhkan rentang waktu yang sangat panjang. Oleh sebab itu, pelepasan energi berskala signifikan tidak terjadi secara terus-menerus dalam waktu singkat di titik yang identik.

"Masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh isu yang tidak benar, karena gempa dengan magnitudo signifikan memerlukan periode puluhan tahun untuk menghimpun kembali energinya pada sumber yang sama," ujar Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono.

Sebagai bentuk solusi praktis dalam menghadapi ancaman bencana, BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan mandiri di lingkungan keluarga. Warga diimbau untuk mulai memeriksa struktur bangunan tempat tinggal agar memiliki ketahanan yang baik terhadap guncangan gempa bumi.

Selain penguatan bangunan, masyarakat disarankan menata perabotan rumah tangga agar tidak mudah roboh dan menutupi jalur keluar saat keadaan darurat terjadi. Memastikan pintu keluar bebas dari hambatan serta menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, dan logistik dasar merupakan langkah preventif yang sangat efektif.

Ketika guncangan gempa mulai terasa, warga dianjurkan untuk segera melakukan tindakan perlindungan diri dasar berupa merunduk, melindungi kepala, dan berlindung di bawah meja yang kokoh. Jika berada di luar ruangan, segera jauhi tiang listrik, pohon tinggi, dinding rapuh, serta papan reklame guna menghindari risiko tertimpa material jatuh.

"Kesiapsiagaan dan pemahaman mengenai langkah perlindungan diri yang tepat jauh lebih efektif dalam mengurangi risiko daripada kepanikan saat bencana berlangsung," kata Daryono.

Setelah getaran gempa berhenti, masyarakat diimbau untuk segera menuju ke area terbuka yang aman serta menghindari bangunan yang retak atau rusak. Warga juga diingatkan untuk selalu memverifikasi seluruh informasi terkait perkembangan aktivitas kegempaan melalui aplikasi dan kanal komunikasi resmi milik BMKG.

Follow timesindonesia.my.id
Follow on Google