TIMESINDONESIA.MY.ID - Duka mendalam tengah menyelimuti Keuskupan Labuan Bajo dan Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Peristiwa tragis ini terjadi menyusul gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, pagi.

Salah satu korban jiwa dari bencana alam tersebut adalah seorang calon imam muda bernama Frater Leonardus Noprianto Waku. Kepergiannya menambah daftar duka bagi keluarga besar gereja dan komunitas pendidikan teologi di sana.

Frater Leonardus mengembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 18 Agustus 2026, sore. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere setelah sempat menjalani perawatan intensif selama empat hari.

Kondisi Frater Leonardus memburuk akibat luka parah yang dideritanya saat kejadian gempa tersebut. Perawatan medis yang diberikan tampaknya belum cukup untuk menyelamatkan nyawanya.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, membenarkan kabar duka tersebut. Ia memberikan konfirmasi resmi mengenai meninggalnya calon imam muda itu.

"Korban meninggal kemarin sore di RSUD TC Hillers Maumere," ujar Margaretha Movaldes Da Maga Bapa saat dihubungi pada Rabu, 19 Agustus 2026, pagi.

Margaretha Movaldes Da Maga Bapa menjelaskan kronologi peristiwa naas yang menimpa Frater Leonardus. Kejadian ini terjadi ketika gempa bumi dahsyat mengguncang wilayah Sikka.

Diduga kuat, kepanikan melanda Frater Leonardus saat guncangan hebat terjadi. Dalam kondisi panik tersebut, ia nekat melompat dari lantai tiga gedung Rusunawa Seminari Tinggi Santo Petrus Ritapiret.

Dikutip dari Kompas.com, keputusan untuk melompat dari ketinggian tersebut ternyata berakibat fatal baginya. Luka-luka yang timbul dari insiden itu sangat parah.