TIMESINDONESIA.MY.ID - Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali diguncang oleh gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7,7. Peristiwa alam ini tidak hanya menimbulkan ketakutan dan trauma mendalam bagi para penduduk, tetapi juga meninggalkan catatan kelam terkait kerugian material yang signifikan.
Salah satu kisah duka terjadi di Kampung Raca Barat, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Kejadian ini menjadi pengingat betapa cepatnya bencana dapat mengubah kehidupan warga.
Pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026, api melalap habis rumah milik Muhammad Nur (60) beserta tiga rumah lainnya. Kebakaran ini terjadi sesaat setelah guncangan gempa bumi melanda wilayah tersebut, menambah deretan musibah bagi masyarakat Flores.
Dalam pantauan yang dilakukan pada Senin, 17 Agustus 2026, kondisi rumah-rumah yang terbakar tampak memprihatinkan. Bangunan-bangunan tersebut telah hangus total, menyisakan puing-puing yang menjadi saksi bisu tragedi tersebut.
"Waktu itu, tetangga lagi rebus jagung pakai kompor minyak tanah. Tiba-tiba gempa," ungkap Muhammad Nur, menceritakan detik-detik awal mula kejadian.
Ia melanjutkan, kepanikan melanda warga saat gempa mulai terasa. Akibatnya, semua orang berhamburan keluar rumah demi menyelamatkan diri dari ancaman bangunan yang roboh.
"Karena panik, semua orang lari keluar dan kompor yang masih menyala terjatuh ke lantai," tutur Muhammad Nur kepada Kompas.com, Senin.
Api yang berasal dari kompor minyak tanah yang terjatuh tersebut dengan cepat menjalar, memicu kebakaran hebat yang tidak dapat dikendalikan dalam situasi gempa.
Peristiwa ini merupakan dampak lanjutan dari gempa M 7,7 yang melanda Pulau Flores, menunjukkan bagaimana kejadian alam dapat memicu bencana lain yang tak kalah merusak.