TIMESINDONESIA.MY.ID - Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi masyarakat yang terdampak.

Dua hari berselang, tepatnya pada Senin, 17 Agustus 2026, warga di Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka secara mandiri.

Mereka mengungkapkan keprihatinan karena belum adanya pasokan bantuan yang sampai ke wilayah mereka. Kondisi ini menambah beban pasca-bencana yang mereka alami.

"Sampai saat ini, kami belum menerima bantuan apa pun," ujar salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya. Pernyataan ini mencerminkan keresahan yang dirasakan oleh banyak penduduk di sana.

Getaran gempa yang kuat dilaporkan terasa di hampir seluruh desa yang berada di Kecamatan Elar. Skala kerusakan yang ditimbulkan pun bervariasi.

Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan, mulai dari tingkat ringan hingga berat. Kondisi ini memaksa banyak keluarga untuk mengungsi dan mencari tempat berlindung yang aman.

Selain rumah, fasilitas umum yang vital bagi kehidupan masyarakat juga dilaporkan mengalami kerusakan parah. Hal ini tentunya menghambat aktivitas dan pemulihan warga.

Lebih lanjut, ada laporan mengenai warga yang mengalami luka-luka. Luka tersebut timbul akibat tertimpa material bangunan yang runtuh saat guncangan gempa terjadi.

Warga setempat secara tegas mendesak agar pemerintah segera memberikan perhatian lebih. Mereka berharap ada tindakan nyata dan kehadiran langsung di wilayah yang terdampak musibah ini.