TIMESINDONESIA.MY.ID - Suasana pagi yang seharusnya tenang di ruang tunggu Terminal Pelabuhan Lorens Say, Maumere, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu, 15 Agustus 2026, berubah seketika menjadi kengerian. Guncangan gempa bumi yang kuat menghantam wilayah Flores, meninggalkan jejak kehancuran.
Dinding-dinding kokoh terminal tak mampu menahan amukan alam. Bangunan tersebut ambruk, menciptakan pemandangan puing-puing yang mencekam di tengah kepanikan para penumpang.
Gempa dahsyat ini memicu reaksi spontan berupa aksi saling injak di antara penumpang. Mereka berdesakan, berusaha keras menyelamatkan diri dari ancaman reruntuhan yang terus berjatuhan.
Salah seorang calon penumpang kapal KM Bukit Siguntang, Allesandra, menceritakan pengalaman mengerikan yang ia alami. Ia berhasil lolos dari maut di tengah puing-puing bangunan pelabuhan yang runtuh.
Peristiwa mencekam itu terjadi sekitar pukul 06.00 WITA. Saat itu, kapal KM Bukit Siguntang baru saja bersandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere setelah berlayar dari Makassar.
Allesandra dan lima anggota keluarganya tengah menunggu di ruang tunggu terminal. Rencana perjalanan mereka adalah menuju Kota Kupang, ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
"Suasana hiruk-pikuk di ruang tunggu Terminal Pelabuhan Lorens Say Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak berubah menjadi kepanikan mencekam pada Sabtu (15/8/2026) pagi," demikian kesaksiannya, dilansir dari Kompas.com.
Ia menambahkan, "Guncangan gempa bumi dahsyat yang melanda wilayah Flores merobohkan dinding terminal pelabuhan dan memicu aksi saling injak antar-penumpang yang berusaha menyelamatkan diri," jelasnya, masih mengutip dari Kompas.com.
Allesandra juga memaparkan, "Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 06.00 WITA, tepat setelah kapal KM Bukit Siguntang yang berlayar dari Makassar bersandar di Pelabuhan Lorens Say Maumere," tuturnya, sebagaimana diberitakan oleh Kompas.com.