TIMESINDONESIA.MY.ID - Seorang bupati di Kabupaten Ende melaporkan bahwa sebagian besar warganya memilih untuk tidur di luar rumah menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Sabtu (15/8/2026) pagi.

Keputusan ini diambil oleh warga karena masih merasakan trauma akibat guncangan yang kuat. Kekhawatiran ini diperparah oleh ingatan akan peristiwa gempa besar yang pernah terjadi pada tahun 1992.

Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, menyampaikan bahwa kondisi malam itu membuat hampir seluruh warga memilih untuk berada di luar. "Mereka butuh tenda sebenarnya. Tapi kami kewalahan karena kita belum punya tenda," ungkap Yosef.

Beliau menambahkan bahwa akibat keterbatasan fasilitas tenda, banyak warga yang terpaksa mencari tempat berlindung sementara di pinggir jalan atau area terbuka lainnya. "Jadi terpaksa banyak sekali yang numpang di jalanan segala macam," ujar Yosef di Ende, Selasa (16/8/2024).

Pemerintah daerah setempat sedang berupaya keras untuk mengatasi situasi ini. Fokus utama saat ini adalah menyediakan tenda yang memadai bagi warga yang membutuhkan tempat pengungsian aman.

Upaya penyediaan tenda ini merupakan respons langsung terhadap kebutuhan mendesak warga yang masih diliputi kecemasan pasca gempa. Dikutip dari Kompas.com.

Situasi ini menyoroti dampak psikologis yang signifikan dari bencana alam, di mana rasa aman di rumah pun terganggu, mendorong warga mencari perlindungan di tempat terbuka.

Kekhawatiran akan potensi tsunami, meskipun tidak disebutkan secara eksplisit dalam sumber asli, menjadi salah satu faktor yang mungkin turut memicu keengganan warga untuk kembali ke dalam rumah mereka.

Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memberikan bantuan dan memastikan keselamatan warganya di tengah ketidakpastian pasca gempa. Dikutip dari Kompas.com.