TIMESINDONESIA.MY.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi mencabut peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan menyusul terjadinya gempa bumi kuat di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Keputusan ini diambil setelah analisis mendalam terhadap potensi dampak lanjutan dari gempa tersebut.

Gempa bumi dengan magnitudo 7,7 itu terjadi pada Selasa pagi, mengguncang berbagai wilayah di NTT dan sekitarnya. Getaran yang dirasakan cukup kuat ini sontak menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya tsunami.

BMKG segera merespons dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah-wilayah pesisir yang berpotensi terdampak. Namun, pemantauan terus dilakukan secara intensif terhadap perkembangan situasi pasca gempa.

"Peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan dinyatakan telah berakhir," demikian bunyi keterangan resmi yang dikeluarkan oleh BMKG. Pernyataan ini memberikan kelegaan bagi masyarakat yang sempat merasakan kecemasan.

Pencabutan peringatan dini ini didasarkan pada data dan hasil pemantauan yang menunjukkan bahwa potensi tsunami besar telah berhasil dihindari. Hal ini merupakan hasil dari kerja keras tim BMKG dalam menganalisis data seismik dan pasang surut air laut.

Meskipun peringatan tsunami telah dicabut, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap gempa susulan yang mungkin terjadi. BMKG terus memantau aktivitas seismik di kawasan tersebut untuk memberikan informasi terkini.

Gempa utama yang terjadi pada pagi hari tersebut berpusat di laut dengan kedalaman yang cukup signifikan. Lokasi dan karakteristik gempa ini menjadi faktor penting dalam perhitungan potensi tsunami.

BMKG menekankan pentingnya mengikuti informasi resmi dari sumber yang terpercaya, seperti BMKG itu sendiri, guna menghindari simpang siur informasi yang dapat menimbulkan kepanikan yang tidak perlu.

"Kita bersyukur bahwa peringatan dini tsunami ini dapat dicabut seiring dengan tidak terdeteksinya gelombang tsunami yang membahayakan," ujar salah satu perwakilan BMKG yang enggan disebutkan namanya.