TIMESINDONESIA.MY.ID - Ribuan warga di sekitar Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menghadapi masa sulit pasca gempa bumi bermagnitudo 7,7. Kejadian ini menyebabkan mereka terisolasi selama dua hari penuh, yaitu pada Sabtu dan Minggu, tanggal 15 hingga 16 Agustus 2026.

Kondisi terisolasi ini disebabkan oleh terputusnya akses jalan utama yang menjadi jalur vital bagi mobilitas warga. Selain itu, jaringan komunikasi dan pasokan listrik juga mengalami gangguan, semakin memperparah situasi yang dihadapi masyarakat setempat.

Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman, mengonfirmasi bahwa terdapat dua desa di wilayahnya yang mengalami kerusakan paling parah akibat guncangan gempa. Kondisi tersebut memaksa warga untuk segera mengungsi mencari tempat yang lebih tinggi dan aman dari potensi bahaya susulan.

"Hari pertama dan kedua begitu," ungkap Agustinus Supratman, merujuk pada periode awal pasca-gempa yang penuh tantangan.

"Mulai hari ketiga, 17 Agustus 2026, sebagian pengungsi lebih memilih kembali dan membuat pos pengungsian di dekat rumah masing-masing, posko mandiri," tambah Agustinus Supratman.

Keputusan untuk mendirikan posko mandiri ini menunjukkan semangat gotong royong dan upaya warga untuk kembali menata kehidupan meskipun dalam kondisi serba terbatas. Mereka secara swadaya membangun tempat perlindungan sementara.

Posko yang didirikan di Kecamatan Lamba Leda Utara difokuskan untuk memberikan perawatan medis bagi para korban yang terluka. Selain itu, posko ini juga menjadi tempat penampungan bagi ratusan warga yang rumahnya telah rata dengan tanah akibat dampak gempa dahsyat tersebut.

"Posko di Kecamatan digunakan untuk merawat pasien dan ratusan warga yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa," ujar Agustinus Supratman.

Dikutip dari Kompas.com, upaya mandiri warga ini menjadi gambaran ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana alam. Meskipun akses dan fasilitas dasar terputus, mereka tidak tinggal diam dan berinisiatif untuk saling membantu.