TIMESINDONESIA.MY.ID - Tim SAR gabungan di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berupaya mempercepat proses evakuasi korban terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Upaya ini dilakukan untuk memastikan para korban segera mendapatkan pertolongan.

Hingga Selasa siang, tepatnya pukul 15.00 Waktu Indonesia Tengah, tujuh orang korban yang berasal dari Kabupaten Manggarai Timur berhasil dievakuasi melalui jalur udara. Mereka diterbangkan menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pratama Komodo yang berlokasi di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Kondisi para korban yang dievakuasi menunjukkan adanya berbagai jenis cedera serius. Beberapa di antaranya mengalami patah tulang, dislokasi sendi, trauma pada tulang belakang (vertebralis), serta luka-luka pada bagian tangan akibat guncangan gempa.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi, menjelaskan bahwa proses evakuasi ini dilaksanakan secara bertahap. Prioritas utama diberikan kepada korban-korban yang membutuhkan penanganan medis secepatnya.

Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi merinci bagaimana proses evakuasi udara ini dijalankan. "Evakuasi dilakukan dalam dua kloter," ujar beliau.

"Kloter pertama menggunakan Helikopter Dauphin dengan membawa tiga korban dan tim medis, sementara kloter kedua membawa empat korban," lanjut Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi. Pembagian ini dilakukan untuk memastikan efisiensi dan keamanan selama penerbangan.

Tindakan evakuasi udara ini menjadi krusial mengingat kondisi geografis dan tingkat keparahan luka yang dialami oleh para korban. Akses darat yang mungkin terhambat pasca gempa menjadikan helikopter sebagai solusi tercepat.

Keterlibatan tim medis dalam setiap penerbangan juga menunjukkan keseriusan dalam penanganan awal korban. Penilaian kondisi dan penanganan darurat dapat langsung dilakukan selama perjalanan menuju fasilitas kesehatan yang memadai.

Kesigapan tim SAR gabungan dalam merespons bencana gempa ini menjadi sorotan. Upaya pemulihan dan penyelamatan korban terus menjadi prioritas utama pemerintah dan seluruh elemen terkait.